← Kembali ke Berita
Berita • Pemberdayaan Petani • 10/09/2026

Purdiyanta, Sang Local Hero di Bidang Agro Wisata, Digital, dan Kesehatan Masyarakat

Hingga awal Februari 2026, jejak hijau Purdiyanta telah mewujud dalam 18.000 bibit alpukat, kelengkeng, durian, hingga nanas yang tersebar di tangan para penggerak agropreneurship.

Purdiyanta, Sang Local Hero di Bidang Agro Wisata, Digital, dan Kesehatan Masyarakat
YOGYAKARTA, 08/02/2026 – Percepatan pembangunan di suatu daerah seringkali tidak lahir dari kebijakan di atas kertas semata, melainkan dari tangan-tangan dingin para agen perubahan yang bekerja di akar rumput. Di sebuah sudut Desa Wijimulyo, Kapanewon Nanggulan, Kabupaten Kulon Progo, sosok Purdiyanta, M.Kom, telah membuktikan bahwa dedikasi mampu mengubah wajah sebuah desa. Kiprahnya yang lintas sektoral tidak hanya menggerakkan ekonomi warga, tetapi juga diakui di level nasional hingga ia dianugerahi penghargaan “Local Hero” oleh Menteri BUMN, Erick Thohir.

Hingga awal Februari 2026, jejak hijau Purdiyanta telah mewujud dalam 18.000 bibit alpukat, kelengkeng, durian, hingga nanas yang tersebar di tangan para penggerak agropreneurship. Ia tidak hanya merangkul para petani tradisional, namun juga menggandeng Kompi Kavaleri 2/Jayeng Rata Toh Raga di Yogyakarta untuk menyulap lahan menjadi perkebunan produktif. Kepercayaan besar dari sejumlah BUMN yang menyalurkan bantuan bibit melalui dirinya menjadi bukti nyata bahwa Purdiyanta adalah jembatan yang kokoh bagi kemajuan agrowisata di Yogyakarta dan sekitarnya.

Bagi Purdiyanta, setiap bibit yang ditanam adalah harapan bagi ekonomi rakyat. Sejak tahun 2017, ia membina petani di desanya sendiri dengan ketelatenan seorang pendidik. Hasilnya pun terasa nyata, di mana setiap musim panen tiba, para petani binaannya mampu meraup keuntungan tambahan di kisaran Rp800.000 hingga Rp1.200.000. Angka ini bukan sekadar statistik, melainkan napas baru bagi kesejahteraan keluarga di pedesaan.

Menariknya, Purdiyanta sejatinya bukan lahir dari latar belakang agronomis, melainkan seorang pakar teknologi digital. Lulusan Teknik Informatika Universitas Bunda Mulia ini merupakan konsultan andal bagi raksasa BUMN seperti PT Jasa Marga, PT Kereta Api Indonesia, hingga Pertamina Gas Negara. Reputasi digitalnya yang cemerlang inilah yang justru menjadi pintu masuk bagi program CSR untuk menyentuh bumi. Melalui tangan dinginnya, bantuan dari PT Jasa Marga dikonversi menjadi pusat wisata “Taman Tresno” di Wijimulyo, sebuah keberhasilan yang kemudian memicu kepercayaan BUMN lain untuk menitipkan amanah pembangunan pertanian kepadanya.


Transformasi Wijimulyo menjadi desa agrowisata tentu tidak semudah membalikkan telapak tangan. Purdiyanta menempuh jalan sunyi untuk meyakinkan warga melalui sepuluh langkah strategis. Dimulai dari observasi mendalam terhadap kondisi alam dan sosial, ia kemudian memilih sumber daya manusia yang benar-benar serius untuk berkebun. Ia membangun jejaring luas dari level pemerintah desa hingga kampus, membentuk tim yang solid, serta mengkader pemimpin di kalangan petani sebagai motivator. Ia bahkan memboyong warga untuk studi banding ke desa-desa sukses demi membuka cakrawala, menanamkan sistem nilai bersama, hingga mengasah keahlian teknis dan mempromosikan mereka yang berhasil ke panggung yang lebih luas.

Di tengah kesibukannya mengurus tanah dan tanaman, jati dirinya sebagai ahli digital tetap berpijar. Sejak 2017 hingga 2024, ia turut membidani pembangunan digital di Kabupaten Taliabu, Maluku Utara, sembari terus mengawal transformasi TI di Kabupaten Kulon Progo. Pada tahun 2024, melalui kolaborasi dengan perusahaan digital DIGIDO, ia menghibahkan perpustakaan digital untuk mendukung kepemimpinan Wali Kota Yogyakarta, Dr. (HC) Hasto Wardoyo. Sebuah langkah yang membuktikan bahwa digitalisasi harus selaras dengan literasi.

Kini, pengabdian Purdiyanta merambah ke cakrawala baru: kesehatan masyarakat. Semangat ini tercermin dari perpustakaan digital hibahannya yang kemudian dinamai “SEHAT” oleh Hasto Wardoyo. Dorongan untuk bergerak di bidang ini pun semakin kuat berkat dukungan sang istri, Prof. Dr. Esti Yunitasari, S.Kp, M.Kes, seorang Guru Besar Kesehatan Masyarakat di Universitas Airlangga. Pasangan ini kini tengah merancang strategi besar untuk memastikan bahwa status Keistimewaan Jogja dapat dirasakan langsung oleh warga melalui derajat kesehatan yang lebih baik.

Gelar “Pahlawan Lokal” memang sangat layak disematkan pada pria yang mewarisi darah juang sang ayah, seorang veteran TNI yang pernah bertaruh nyawa di Timor Timur. Jiwa ksatria itu pula yang dahulu membawanya meraih beasiswa dari Yayasan Kencana Lestari milik Hartini LB Moerdani. Pada tahun 2025, dalam usia yang sudah sangat lanjut, Hartini LB Moerdani menyempatkan diri berkunjung ke Wijimulyo. Ia datang untuk menyaksikan langsung bagaimana anak didiknya telah tumbuh menjadi pahlawan bagi rakyatnya, sebuah pertemuan emosional yang mengukuhkan bahwa perjuangan Purdiyanta adalah sebuah pengabdian yang tuntas.
Ditulis oleh Haryadi Baskoro