← Kembali ke Berita
Berita • Pelayanan Masyarakat • 10/09/2026

Universitas Airlangga Berikan Dampingan pada Kelompok Rentan di Nanggulan

Universitas Airlangga kembali menunjukkan perannya dalam melaksanakan Tri Dharma dalam perguruan tinggi, yaitu pengabdian masyarakat. Kegiatan yang berhasil terlaksana pada hari Jumat, 10 Juli 2026 kemarin merupakan hasil inovasi dan kerja sama antara Fakultas Keperawatan Unair dengan Fakultas Farmasi Unair yang diperkuat dengan dukungan dari CSR PT. Jasa Marga dan Agro Nanggulan untuk menciptakan inovasi produk kosmetik herbal dari alpukat yang ditujukan sebagai program pendampingan dan pengembangan kelompok perempuan berdampak dan kaum difabel yang ada di Wilayah Nanggulan.

Universitas Airlangga Berikan Dampingan pada Kelompok Rentan di Nanggulan
Kemandirian ekonomi kelompok masyarakat rentan tengah diwujudkan di wilayah Nanggulan. Melalui inovasi produk kosmetik herbal, di Balai Kapanewon Nanggulan, Jumat, 10 Juli 2026 telah terlaksana pelatihan pembuatan "Sabun Jaga" dari buah alpukat sebagai bahan utama dengan peserta kelompok perempuan berdampak serta kaum difabel.

Pelatihan ini merupakan kerjasama antara PT Jasa Marga, Universitas Airlangga (Unair) dan Agro Nanggulan. Pelatihan ini merupakan penegasan komitmen dalam memberikan kontribusi nyata bagi masyarakat melalui program "Unair Berdampak". Guru Besar Fakultas Keperawatan Universitas Airlangga, Prof. Dr. Esti Yunitasari S.Kp, M.Kes, dalam pelatihan ini, didampingi Dr. Yuni Priyandani, S.Si., Sp.FRS., Apt , Dr. Neny Purwitasari, S.Farm., M.Sc., Apt dan Mahasisiwi dari keperawatan dan farmasi mengambil peran utama dalam inovasi ini.

Guru Besar Fakultas Keperawatan Universitas Airlangga, Prof. Dr. Esti Yunitasari, menyampaikan bahwa sebagai institusi pendidikan tinggi, Unair memiliki tanggung jawab besar untuk membawa perubahan positif yang dapat dirasakan langsung oleh masyarakat. Komitmen ini sejalan dengan capaian Unair yang berhasil menduduki peringkat pertama secara nasional dalam pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs).

"Kita buktikan bahwa perguruan tinggi harus hadir dan berdampak langsung di tengah masyarakat. Melalui pelatihan ini, kita memberikan perhatian khusus kepada teman-teman kita yang sangat istimewa (kaum difabel) serta kaum perempuan agar mereka dapat lebih berdaya," ujarnya. Prof. Esti menekankan pentingnya menghargai kaum difabel bukan atas dasar rasa kasihan, melainkan dengan memberikan ruang dan apresiasi terhadap hasil karya mandiri mereka. Melalui pelatihan tersebut, Unair setidaknya langsung berkontribusi pada enam poin SDGs sekaligus, termasuk pengentasan kemiskinan (SDGs 1), pertumbuhan ekonomi (SDGs 8), industri dan inovasi (SDGs 9), serta kesetaraan gender (gender equality). Selain itu, Prof. Esti juga menjelaskan, alpukat dipilih sebagai bahan baku didasarkan pada melimpahnya potensi lokal di daerah tersebut. Unair melihat adanya peluang besar untuk mengoptimalkan alpukat yang tidak terserap ke pasaran agar tetap memiliki nilai ekonomis tinggi.

Berdasarkan kajian dan pengujian laboratorium yang telah dilakukan di Fakultas Farmasi Unair, alpukat tidak hanya kaya akan nutrisi untuk dikonsumsi, tetapi juga memiliki kandungan yang sangat baik bagi kesehatan kulit jika diolah menjadi produk kosmetik, "Pengujian laboratorium terkait komposisi dan kandungan alpukat ini sudah dilakukan secara ilmiah oleh rekan-rekan di Farmasi Unair, sehingga aman dan bermanfaat untuk dikembangkan lebih lanjut oleh masyarakat," ucapnya.

Selanjutnya, Prof Esti berharap dapat menjadi motor penggerak ekonomi baru bagi warga Nanggulan, sekaligus menjadi model kolaborasi inklusif yang berkelanjutan antara akademisi, pemerintah setempat, dan masyarakat, "Jika pada 2017 hingga 2025 fokus kami adalah pemberdayaan petani, maka saat ini momentum untuk beralih pada pemberdayaan kaum perempuan berdampak dan kaum difabel yang rentan terhadap kemandirian ekonomi. Sehingga melalui program ini kami hadir berupaya mengangkat potensi mereka demi keberlanjutan program secara jangka panjang," ujarnya.

Purdiyanta turut mengapresiasi PT Jasa Marga yang telah berkomitmen penuh mendukung pembiayaan kegiatan pada tahap awal ini. Purdiyanta menjelaskan, dalam kegiatan ini dilibatkan para pakar dari Fakultas Keperawatan serta Fakultas Farmasi Universitas Airlangga (Unair). Hal ini didasarkan pada kebutuhan akan standardisasi produk yang aman dan berkualitas. Berdasarkan keahlian para akademisi di bidang farmasi kecantikan ini, formulasi buah alpukat lokal berhasil diekstrak menjadi produk sabun batang herbal yang berdaya saing tinggi, "Kami melihat turunan buah alpukat cocok untuk kecantikan. Kami memilih produk sabun karena menjadi kebutuhan harian masyarakat yang pasti digunakan. Karena produknya tahan lama dan perputaran konsumsi yang cepat, kami optimis hasil produksi ini dapat terserap pasar dengan optimal," ujarnya.

Purdiyanta menjelaskan, pihaknya telah menyiapkan strategi pemasaran yang matang. Pemasaran nantinya tidak hanya mengandalkan jalur pemasaran digital yang didampingi secara intensif, namun juga melibatkan jejaring pengusaha daerah, "Produk-produk yang dihasilkan oleh kaum difabel ini memiliki nilai kepedulian sosial yang tinggi, dan di pasar internasional, produk berbasis inklusi mendapatkan perhatian serta apresiasi yang sangat bagus," ucapnya. Melalui target produksi yang adaptif, Purdiyanta optimis produk "Sabun Jaga" tersebut akan siap dilempar secara masif ke pasaran pascapelatihan. Kedepan, program ini diharapkan dapat memicu ketertarikan BUMN lain untuk mendirikan kelompok serupa, sehingga seluruh kaum difabel di Kabupaten Kulon Progo dapat terakomodasi dalam ekosistem ekonomi yang mandiri dan inklusif.

Dandim 0731/Kulon Progo, Letkol Inf Dyan Niti Sukma mengatakan, Kulon Progo menyimpan potensi alam yang sangat besar namun belum sepenuhnya terekspos secara maksimal. Nanggulan, tambahnya, dikenal sebagai wilayah yang sangat cocok untuk komoditas hortikultura dan saat ini telah menjadi salah satu daerah penghasil agrowisata utama, khususnya untuk buah kelengkeng dan alpukat, "Inilah kesempatan untuk mengekspos potensi yang ada, khususnya di sektor agrowisata. Nanggulan ini luar biasa, tanahnya cocok untuk menanam alpukat, kelengkeng, hingga durian. Alhamdulillah, saat ini wilayah Nanggulan sudah menghasilkan pendapatan yang baik dari sektor kelengkeng dan alpukat," ujarnya.

Lebih lanjut, Dyan berharap melalui pelatihan tersebut, komoditas yang ada tidak hanya dijual sebagai bahan mentah, melainkan mampu dikembangkan menjadi produk olahan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) bernilai ekonomi tinggi. Melalui sinergi bersama para akademisi, Dyan mengajak seluruh elemen untuk berkomitmen mengawal keberlanjutan produk UMKM ini agar dapat berkembang pesat di pasaran luas.
Ditulis oleh Admin Purdi Peduli